Monday, 3 September 2018

Hanya Ginseng dan Park Ji Sung yang Bernilai di Matamu...



            Acara pembukaan dan penutupan Asian Games yang berlangsung spektakuler itu ternyata meninggalkan kesan yang mendalam bagi para warga di tanah air. Para pengabdi sosial media sejak detik-detik pembukaan hingga berakhirnya Asian Games tadi malam terus berlomba-lomba mengabadikan moment bersejarah bagi Indonesia yang terpilih sebagai tuan rumah Asian Games untuk kedua kalinya itu lewat beragam ciutan yang takjub akan pertunjukan megah tersebut. Tak hanya di Indonesia, para netizen Korea Selatan juga turut mengekspresikan kekagumannya kepada panitia dan seluruh pengisi acara rangkaian pembukaan dan penutupan Asian Games 2018 yang berlangsung di GBK tersebut. Aksi para penari, penyanyi hingga adegan presiden Jokowi Widodo naik motor moge bak aktor kece drama Korea itu pun menjadi perbincangan para warga net di Korea Selatan. Sungguh saya sangat mengapresiasi kepada siapapun sang pemilik ide ajaib ini, sampai-sampai membuat baper para kaum millennial di negeri ginseng yang pada dasarnya memang sudah terbiasa disuguhi adegan-adegan romantis lewat drama-drama berkualitas tanpa zoom dan slowmotion berlebihan seperti di negeri antah berantah itu. 
            Tak hanya itu, nama Indonesia juga menjadi trending topic di berbagai koran dan situs di Korea Selatan seperti Naver dan Twitter. Para fangirls garis keras sampai garis normal di tanah air pun turut heboh dengan ramainya pembahasan Asian Games di negara yang mereka percayai sebagai tempat lahirnya calon suami mereka itu (Saya aminkan). Ramainya perbincangan acara perhelatan akbar empat tahun sekali ini ternyata juga didukung oleh stasiun-stasiun TV di Korea Selatan yang berlomba-lomba  menayangkan setiap pertandingan Asian Games untuk mendukung para atlet-atletnya yang sedang berlaga. Tak tanggung-tanggung beberapa drama dan variety show yang bisa meraup rating tinggi tersebut justru digusur demi menayangkan pertandingan-pertandingan tersebut. Drama Korea “Your House Helper” yang ditayangkan oleh KBS beberapa waktu yang lalu juga terpaksa ditunda selama 30 menit demi menayangkan pertandingan basket antara Korea dan Indonesia. Yang pastinya stasiun-stasiun TV di Korea sana menyiarkan pertandingan-pertandingan tersebut tanpa mesti menunggu ditegur dulu sama Kemenporanya gara-gara doyang ngacak saluran.

            Di sisi lain, ketika warga Korea menyanjung Indonesia dengan penuh kekaguman terhadap presiden maupun rakyatnya maka lain pula dengan beberapa netizen Indonesia yang amunisi nyinyirnya tidak pernah habis setiap membahas Korea. Terlebih pas acara closing ceremony semalam. Kenapa ngundang artis Korea, India, dan China katanya. Mungkin mereka lupa kalau ini Asian Games bukan PON apalagi PORSENI. Di antara pertunjukan semalam maka sudah jelas siapa penampilan yang paling banyak dikomentari oleh para haters. Yah, tak lain dan tak bukan adalah para oppa Suju dan iKon. Betewe, sebenarnya apa sih salah oppa dan onnie kami? Mulai dari mengejek para artis Korea yang plastik semua katanya padahal dia sendiri tidak sadar kalau banyak artis-artis Indonesia yang juga suka operasi plastik. Bahkan sampai ada juga yang nyinyir level maksimal pakai kata “cowok cantik” kepada oppa-oppa kesayangan K-popers tanah air itu. Mereka tidak tahu saja kalau cowok cantik yang mereka ejek itu lebih maskulin dari mereka. Hah? Masaaa??? Ya iyalah wong mereka semua ikut wajib militer bahkan beberapa aktor Korea memilih untuk ikut wajib militer di usia yang masih sangat muda. Nah kamu di usia dua puluhan tahun disuruh angkat galon saja mengeluhnya setengah mati. 

            Motto andalan haters K-pop tanah air yang paling fenomenal di telinga saya tak lain dan tak bukan adalah kata lipsink alias pura-pura nyanyi. Saya tahu perasaan K-popers berkecamuk setelah mendengar perkataan pedas mereka yang sebenarnya mereka sendiri tidak tahu sama sekali persoalan musik di Korea. Mereka tidak tahu kalau proses menjadi penyanyi di Korea tak seinstan jadi penyanyi di Indonesia yang kebanyakan cuma mengandalkan satu sensasi dan satu lagu saja plus bonus suara ala kadarnya itu. Masa training untuk lolos debut menjadi artis ataupun penyanyi di Korea juga tak semulus wajahnya langkahnya Lucinta Luna jadi penyanyi dangdut yang selalu bangga dengan jumlah followers di instagramnya itu.      

       Tapi kalau boleh jujur saat saya dan teman-teman saya selaku penganut aliran Oppanisme diejek dengan kalimat Hidupmu kebanyakan drama kayak drama Korea, justru kami senang saking senangnya sampai-sampai mau sujud syukur. Hah? Masaaaa??? Ya iyalah daripada dikatain hidupmu kebanyakan slow motion sama zoom kayak di sinetron yang judulnya Istriku Ternyata Suamiku atau yang di serial Anak Perempuanku Menikah dengan Suaminya (kalau garing diskip saja) ya mending saya dikatain kebanyakan drama kayak drama Korea.   

            Tapi maha benar netizen dengan segala bacotnya itu memang susah untuk dihindari. Mereka akan tetap menutup mata dengan hal-hal positif yang dilakukan oleh para artis Korea dan fansnya. Sebut saja kejadian saat Kim Jonghyun salah satu personel boyband SHINee ditemukan meninggal karena bunuh diri pada bulan Desember tahun lalu. Tentu saja radar kebencian dari para haters K-Pop tanah air langsung jadi auto on. Berita ini pun jadi sasaran empuk mereka untuk ditertawakan dan pastinya sambil membawa kantong kata plastik yang menjadi langganan mereka tiap nyinyir. Walhasil para Shawol sebutan fans dari SHINee pun tidak tinggal diam. Daripada buang-buang energi dan kuota meladeni ciutan para haters di dunia daring, mereka lebih memilih membuat aksi kemanusiaan dengan tajuk From Jonghyun to Indonesia and Palestine. Tak tanggung-tanggung donasi yang mereka kumpulkan pun mencapai 466 juta lebih dan melebihi target awal mereka yang hanya berjumlah 100 juta.  

            Lagi dan lagi yang namanya haters tentu tidak akan mau tahu persoalan macam kemanusiaan begitu. Padahal kalau mereka mau menggunakan Hp dan kuota mereka untuk mencari aksi-aksi kemanusiaan dari para fans maupun artis Korea itu sendiri tentu mereka akan lebih mudah menemukannya dibandingkan ubek-ubek internet cuma buat cari gossip dan skandal mereka. Bagi tukang nyinyir, informasi-informasi tersebut tentulah lebih gurih dari isu politik tanah air apalagi kalau digoreng di sosmed. Tapi ya sudahlah, mungkin hanya ginseng dan Park Ji Sung yang bernilai di mata mereka kalau lagi bahas Korea. Masoook oppa….

Source picture di sini


Thursday, 2 August 2018

Apakah Kita Memanfaatkan Teknologi atau Dimanfaatkan Teknologi?



Banyak yang menganggap bila wajah pendidikan Indonesia saat ini adalah hasil dari perkembangan zaman. Teknologi, lingkungan serta pola pikir cenderung ikut berubah mengikuti laju era globalisasi. Tidak bisa dipungkiri bila kecanggihan teknologi memegang peranan yang cukup besar dalam mengubah tatanan dunia pendidikan di zaman ini. Perubahan itu pun bisa dilihat dan dirasakan di beberapa sekolah di Indonesia. Sebut saja pemanfaatan teknologi digital yang dirasa lebih memudahkan siswa dalam proses belajar dan mengajar. Teknologi dianggap mampu menjawab beragam permasalahan yang terjadi di sekitar lingkungan pendidikan. Salah satu contohnya adalah kehadiran internet yang telah membuka jalan bagi jutaan anak untuk mengakses beragam informasi. Namun, terlepas dari pandangan-pandangan tersebut, yang menjadi persoalan adalah tentang seberapa efektif peran teknologi terhadap pendidikan anak-anak di Indonesia saat ini.

Mendapatkan informasi secara cepat dan up to date adalah salah satu alasan mengapa para guru, siswa hingga orang tua percaya pada keberadaan teknologi dalam membantu memenuhi kebutuhan anak-anak mereka di dunia pendidikan. Teknologi pun sudah dianggap menjadi kebutuhan primer bagi anak sekolah zaman sekarang. Saat ini anak-anak lebih panik saat lupa membawa smartphone daripada membawa buku ke sekolah. Bahkan, para siswa lebih memilih untuk bertanya pada google dibandingkan dengan guru atau orang tua mereka di rumah. Satu pertanyaan yang akan melahirkan puluhan hingga ratusan jawaban dari berbagai situs penyedia informasi di dunia daring. Tentu para siswa mendapatkannya tanpa harus menunggu dan mendengar penjelasan panjang kali lebar lagi dari guru di kelas atau dari orang tua mereka di rumah. Teknologi hari ini memang telah menawarkan banyak kemudahan bagi para penggunanya. Saking mudahnya para siswa tidak perlu repot-repot lagi untuk mencatat seluruh isi papan tulis di kelas. Keberadaan kamera di setiap telepon genggam anak-anak saat ini telah membantu mereka untuk menghemat kertas di buku mereka. Tak ada lagi sistem meminjam buku catatan. Cukup mengaktifkan bluetooth atau berbagi lewat akun sosial media masing-masing maka catatan pun akan terkirim.  

Namun, di balik kemudahan-kemudahan tersebut tanpa kita sadari teknologi secara perlahan mengubah anak-anak di negeri ini menjadi mahluk yang pasif.  Fenomena-fenomena hari ini lebih banyak bercerita tentang anak-anak yang hobi berselancar di dunia maya mencari tugas sekolah dibandingkan membaca referensi-referensi di perpustakaan. Lebih hemat waktu dan tenaga katanya. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu bersama komputer lipat dan telepon pintar mereka di kamar untuk menyelesaikan tugas-tugasnya tanpa perlu ke luar rumah lagi mencari buku di toko buku atau sekedar ke perpustakaan. Tentu tak ada yang salah dengan dengan hal tersebut. Akan lebih baik bila anak-anak memang memanfaatkan kemajuan teknologi daripada menyalahgunakannya. Namun, tidak bisa dipungkiri bila para mesin seakan telah menggantikan posisi utama manusia untuk saling bersosialisasi di mana orang tua hingga teman belajar kelompok bukan lagi sumber utama untuk menemukan jawaban dari permasalahan yang mereka temukan di bangku sekolah.  Saat ini, anak-anak lebih memilih fitur grup dalam setiap aplikasi untuk berkumpul dan berdiskusi walaupun kebanyakan ujung-ujungnya hanya saling lempar sticker atau emoticon dan berakhir pada kiriman lampiran tugas yang diselesaikan oleh separuh jumlah penghuni grup. Selebihnya adalah orang-orang yang masih tetap mengandalkan teknologi dengan fitur download, copy dan paste-nya. 

Saya membayangkan bila di masa mendatang perpustakaan akan beralih fungsi menjadi museum. Para generasi di masa depan hanya mengenal perpustakaan sebagai tempat bersejarah untuk mencari ilmu sebelum datangnya ebook dan situs-situs mengunduh buku lainnya. Menulis hanya akan menjadi kegiatan yang dianggap kuno dan belajar kelompok sudah dipandang ketinggalan zaman bagi anak-anak. Tak ada lagi mahluk sosial yang gemar berinteraksi dengan keadaan sekitarnya sehingga pada akhirnya rasa saling berempati terhadap guru, siswa dan orang tua akan menghilang ditelan oleh kemajuan zaman. 

Sebagai seseorang yang beruntung merasakan dua masa yaitu era kejayaan teknologi dan zaman minimnya teknologi, saya sama sekali tidak menyalahkan keberadaan teknologi hari ini. Bagaimanapun teknologi adalah bagian dari perkembangan zaman yang juga memiliki andil besar terhadap pendidikan di tanah air. Melarang anak untuk tidak menggunakan teknologi bukanlah pilihan yang tepat di di era serba canggih ini. Menanamkan kebijakan anti gawai pada anak-anak hanya akan melahirkan anak-anak yang gagap akan teknologi. Sudah seharusnya orang tua mengambil langkah yang lebih bijaksana agar anak tidak terjebak dalam pilihan antara buku atau gawai. Untuk itulah orang tua memegang peranan penting dalam menanamkan budaya literasi sejak dini kepada anak-anaknya. 

Ada banyak cara untuk membuat anak tetap mencintai buku di tengah menjamurnya pengguna gawai hari ini seperti memperkenalkan buku kepada anak sejak kecil lewat bercerita. Mengajak anak-anak ke toko buku atau menjadikan buku sebagai hadiah untuk anak-anak. Membacakan dongeng sebelum tidur atau sekedar menceritakan kisah-kisah inspiratif kepada anak mungkin sudah terkesan kuno untuk orang tua zaman sekarang. Banyak orang tua yang tidak memiliki waktu hingga ada pula yang memang tak ingin meluangkan waktu sama sekali untuk sekedar berbagi cerita kepada anak-anaknya karena menganggap teknologi hari ini sudah menggantikan kegiatan berdongeng tersebut. Kebanyakan orang tua bahkan lebih memilih mainan hingga ponsel pintar sebagai hadiah untuk anak-anak mereka dibandingkan sebuah buku bacaan. Begitu pun saat bepergian bersama anak-anak mereka. Para orang tua lebih mengingat untuk berbelanja bersama anak-anak mereka di sebuah toko baju dibandingkan toko buku. Hal-hal yang terlihat sederhana tapi sering kali luput dari perhatian orang tua di zaman serba modern ini. 

Untuk mencegah anak-anak agar tidak kecanduan bermain gawai seharusnya orang tua juga tak boleh ragu dalam menerapkan peraturan menggunakan gawai selama di rumah. Orang tua harus konsisten terhadap aturan waktu yang diberikan kepada anak mereka di rumah. Misalnya memberikan kesempatan kepada anak untuk bermain gawai di jam-jam yang telah disepakati bersama anak dan orang tua bukan atas kesepakatan pribadi orang tua itu sendiri. Menuntut anak untuk mengikuti kemauan orang tua sama saja memberikan tekanan emosi berlebihan kepada anak yang pada akhirnya bisa menyebabkan anak stress dan takut kepada orang tuanya sendiri. Ada baiknya orang tua juga harus rajin memeriksa isi gallery maupun history ponsel anak-anak mereka. Terus menjalin komunikasi dan menggali informasi secara tegas tapi santun dengan anak juga merupakan cara jitu menghindarkan anak dari konten negatif gawai. 

Budaya adalah tentang sebuah kebiasaan termasuk budaya membaca pada anak yang tumbuh karena kebiasaan orang tua memperkenalkan buku sejak dini kepada anak-anaknya.  Wajah pendidikan Indonesia di masa depan adalah hasil dari pendidikan Indonesia hari ini. Kita adalah cerminan dari wajah pendidikan di masa yang akan datang. Sudah saatnya orang tua sebagai madrasah pertama bagi anak-anak harus sadar akan arus teknologi yang mampu menyeret dunia pendidikan kita ke pusaran dunia digital yang makin tidak terkendali.  #Sahabatkeluarga


Wednesday, 16 May 2018

Welcoming Ramadhan 1439 H




H-1 menuju Ramadhan seharusnya saya isi dengan tulisan suka cita menyambut Ramadhan. Jauh-jauh hari sebelumnya tangan saya sudah gatal menuliskan banyak hal mengenai euphoria menjemput bulan puasa. Kepala saya juga sudah sangat ingin menumpahkan berbagai macam list menu buka puasa sampai ke schedule yang harus saya lakukan selama puasa biar bisa lebih produktif jadi orang. Namun wacana hanyalah sekedar wacana. Ujung-ujungnya tulisan saya itu hanya berupa rencana. Ternyata tangan dan kepala saya lebih greget menuliskan fenomena belakangan ini. Mulai dari kasus bom sampai hawa panas politik yang terus melilit di sekitar saya. Trending topics nowadays!


Bulan puasa yang harusnya menjadi momentum untuk saling memperbaiki diri dan mempererat silaturahmi antar sesama mendadak berubah haluan menjadi peristiwa untuk saling menuduh dan memfitnah. Di mana-mana selalu saja berita tentang terorisme yang kemudian dikaitkan dengan umat islam. Sampai-sampai muslim yang berpeci, pakai baju kokoh, celana cingkrang dan berjanggut menjadi sasaran masyarakat dan aparat untuk dicurigai. Para muslimah pun tak luput dari incaran kecurigaan ini. Beberapa kasus muslimah yang dipaksa buka cadar dan jilbab sudah beredar di sosial media.  Lagi-lagi gara-gara sih teroris umat Islam jadi sasaran. Mau lu apa sih ris? Jihad ko nanggung amat. Suriah sama jalur Gaza lebih butuh geng kalian tuh!

Mencurigai demi keamanan bersama tentu boleh, asal jangan semena-mena memperlakukan umat Islam dengan tindakan yang tidak sepantasnya. Terlepas dari berita-berita yang kebanyakan dipelintir sana sini guna memecah belah bangsa, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para aparat kepolisian terhadap perannya membasmi teroris di tanah air. I do appreciate your works so far Sir.  It is not an easy job to be faced although some people out there assume if this is acara settingan only. Well, terserah beberapa pihak yang menganggap ini semua hanyalah sebagai pengalihan isu. I know there is an actor or perhaps many actors behind of this dark, grey, or pink agenda but in the deepest of my heart acara mempertaruhkan nyawa demi menjalankan tugas bukanlah hal yang harus dianggap rekayasa belaka.

Belum usai acara perang tagar kemarin muncul lagi perang asumsi dari banyak kalangan tentang kasus bom ini. Tak jarang saya melihat banyak yang mengaitkan kasus bom ini dengan politik belakangan ini. Hmmm,,, I am not trying to judge you as a clan of  sumbu pendek, cebong or whatever but menghubung-hubungkan peristiwa bom dan kemudian menyalahkan sepenuhnya kasus ini kepada pemerintah dan pihak kepolisian yang sekarang adalah hal yang sangat tidak beretika menurut saya. Ketika beberapa pihak pemerintah bersusah payah mencari fakta, penyebab hingga pelaku terorisme di tanah air, beberapa pihak malah menyudutkan pemerintah yang dianggap tidak becuslah, ngarang, settingan dan lain sebagainya. Adu mulut di dunia maya sampai dunia nyata pun tak terbendung. Yang awalnya hanya heboh ngeshare info bom bunuh diri dan perlawanan umat Islam terhadap teroris berujung pada politik jaman now. Nyinyir sana sini plus ditambah bumbu hoax biar lebih gurih. Meme mulai berterbaran. Again!

Sebagai muslim saya miris dengan banyaknya pemberitaan hoax di mana-mana. Terlebih dengan ujaran kebencian yang sliweran di berbagai sosmed yang pelakunya sendiri itu yah umat Islam. Beda pendapat sedikit saja dianggap membela kafir. Beda pandangan  dianggap mendukung tokoh politik tertentu. What? To be honest, para calon bupati di kota saya saja, saya tidak tahu sama sekali. Nama mereka saja saya nggak ingat lebih-lebih asal partai politik mereka. Indeed! Saya lebih pilih diskusi drama korea daripada bahas politik jaman jigeum.

Semenjak pemilihan gubernur Jakarta kemarin memang hawa politik di Indonesia makin naik. Pemilihan gubernur rasa pemilihan president. Jakarta yang pemilu, se Indonesia yang kampanye. Timeline saya sampai penuh ujaran kebencian atas pasangan-pasangan tertentu. Seiring berjalannya waktu saya kira semuanya akan berakhir usai pemilihan gubernur di Jakarta ternyata lanjut di season selanjutnya. Kayak sinetron aja. Then boom! Peran tagar pun dimulai. Sosmed saya kebanyakan berisi postingan yang nyinyir sana-sini. Beruntung saya follow beberapa akun artis korea, fanpage anime sama group yang yang isinya hanya kebanyakan nyinyir masalah jomblo. Mereka membuat timeline saya lebih adem.

Dari beberapa fenomena yang terjadi, ternyata saya belajar banyak tentang kebencian yang HQQ bagi para penganutnya. Resentment is the point in my post this time. I am not just talking about the hate in this politic atmosphere tetapi juga kepada human relationship. Aura kebencian di panggung politik hari ini tak jauh berbeda dengan aura kebencian di panggung kehidupan sehari-hari kita. Kalau di dunia politik, saat tokoh yang tak disukainya membuat sebuah kesalahan kecil saja maka itu bisa dijadikan senjata untuk disebar di dunia maya dan dunia nyata. Maka benarlah motto andalan beberapa haters ini “Bad news is a good news”. Bagaimana dengan kasus kebencian yang HQQ di sekitar kita? Yeah, “Bad news is still a good news”.  Walaupun untuk kaum yang satu ini kebanyakan lebih memilih untuk menebar “kebencian” di dunia nyata lewat mulut ke mulut sambil cari kesalahan dan aib dibandingkan lewat sosmed.

Well, ini sudah 2018. Berhubung Ramadhan apa nggak minat introspeksi diri? Hidupmu terlalu singkat kalau hanya untuk menebar kebencian. Hidupmu terlalu sia-sia jika hanya untuk mencari kesalahan orang lain.  Duniamu terlalu hambar jika pikiranmu tak mau bersahabat dengan kebenaran yang kemudian kau abaikan karena tak sejalan dengan keinginanmu. Rugi sekali kau menjadi pengabdi kebencian kawan!  

Accept the life so you do not need to live in a lie. Love yourself kata Justin Bieber.


Friday, 16 March 2018

Rooftop, Senja, dan Teman Tiga Bulanku...



Alkisah pada suatu hari di bulan November, setelah menyelesaikan tugas maha sakral di salah perguruan tinggi negeri di Makassar, tiba-tiba saja saya mendapatkan kabar gembira yang mencurigakan. Kabar gembira? Yup saat kuota saya lagi sekarat-sekaratnya tiba-tiba muncul notifikasi-notifikasi Direct Message dari beberapa sosmed saya yang menyebutkan kalau saya adalah salah satu dari dua puluh orang yang lolos masuk dalam program persiapan lanjut studi luar negeri yang diselenggarakan oleh ICMI selama tiga bulan. Mencurigakan? Yup, saya tidak habis pikir saja kok bisa-bisanya saya lulus di antara beratus-ratus orang yang menjadi saingan saya waktu itu. Suddenly, I wondered if I got a prank from my friends in sosmed. Demi menghindari fitnah antar rekan sendiri merengeklah saya kepada salah seorang teman waktu itu untuk menyedekahkan sebagian kuotanya alias tetring ke HP saya. Alhamdulillah dikabulkan, lalu sayapun meluncur ke Instagram saya untuk mengklarifikasi kabar tersebut kepada teman yang mengirimkan info dari ICMI Cerdas. Setelah teman saya membenarkan info itu, saya pun masuk ke akun WA saya. Sangat jelas terlihat betapa membludaknya isi pesan dari berbagai grup di WA saya setelah hiatus beberapa hari. Willy nilly saya harus olahraga skrolling pesan, lumayanlah buat latihan otot jari-jari saya. Then BOOM!  I found a lot of  ucapan selamat dari teman-teman saya, at the end saya pun mulai percaya kalau saya benar-benar lulus. Terpaksa barang-barang yang sudah saya angkut pulang kampung akhirnya saya bawa lagi ke Makassar. For your information readers, ICMI adalah sebuah lembaga organisasi cendikiawan muslim di Indonesia yang dibentuk pada tahun 1990 di mana bapak B.J Habibie kala itu terpilih sebagai ketua ICMI yang pertama. Nama ICMI ini sendiri merupakan singkatan dari Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia. Sedangkan ICMI Cerdas (Collaborative, Empowering, Religious, Developing, Accesible, Sustainable) adalah program beasiswa yang diberikan dan dikelola oleh ICMI wilayah Sulsel. Well, so at the time I was officially awardee ICMI Cerdas 2017-2018. Ehmmm anyway, sampai hari ini saya masih malu kalau ada orang yang menyebut saya sebagai anak ICMI. Bagaimana tidak, bebannya keberatan dude. Sudah cendikiawan, muslim terus ditambah dengan embel-embel CERDAS dibelakangnya membuat saya agak canggung menjadi bagian dari beasiswa ini. Saya merasa terlalu keren, Indeed! Tapi, terlepas dari semua beban itu I am so grateful to be the one of the selected students in this programme. Berkumpul bersama mahluk-mahluk pilihan yang pastinya cendikiawan di mata para interviewers kala itu menjadi semacam motivasi sekaligus doa untuk benar-benar menjadi seorang muslim yang berguna bagi nusa dan bangsa. Amiiin...

Singkat cerita, program pelatihan IELTS selama tiga bulan ini pun berakhir. Tidak terasa. Sebenarnya terasa sih, mulai dari capeknya belajar di kelas dari jam satu siang sampe setengah enam, capeknya kejar setoran tugas writing sama vocabulary tiap hari, belum lagi pusing liat teks reading IELTS yang tidak ada menarik-menariknya di mata saya, dengar podcast yang speakernya kayak orang kumur-kumur, kerja writing yang cara kerjanya tidak segampang tulis diari, terus ada speaking yang pertanyaan truly unpredictable. Saking keponya bisa tanya soal hubungan cewek sama cowok. Kan kasihan yang jomblo. Intinya I was not falling in love at the first sight sama IELTS. However, seiring berjalannya waktu saya sudah mulai terbiasa dengan yang namanya IELTS. Saya menerima segala kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya. Lohhhhh, what I want to say is about the challanges in learning IELTS. But honestly, belajar IELTS itu bikin gemess sampai bikin otak berdarah-darah. Seriously??? Kalau tidak percaya coba saja belajar dan rasakan sensasinya but I do believe it’s so fun dude

Anyway, selama tiga bulan itu saya tidak saja akrab dengan IELTS. As aformentioned, pada program ini ICMI telah memilih dua puluh putra-putri terbaik sulsel (Uhukkk) untuk mengikuti pembinaan bahasa. Then you know what, saya dipertemukan oleh berbagai macam spesies di kelas ini. Berdasarkan jurusan serta nama  yang tertera pada website, saya melihat rekan-rekan seperjuangan saya untuk go abroad di program ini adalah anak-anak yang luar biasa. Di minggu pertama terlihat jelas akward moment di antara kami. Wajarlah, baru kenalan jadi jaim-jaim dulu. Tapi sejujurnya, saya yang berasal dari jurusan bahasa Inggris totally minder dengan mereka. Bayangkan saja saya sekelas dengan anak jurusan Matematika, Fisika, PAUD, Pertanian, Bisnis, Statistik, Tafsir Hadis, Sosial Politik, Biologi, Olahraga sampai jurusan Perikanan dan Kesehatan. Could you imagine, when you are from English department then meet with the other students from different departments but have a good skill in English. Yeah, they are super extraordinary students. Let me tell you a piece of story of my freaking classmates.

Pertemuan-pertemuan awal benar-benar sangat membosankan bagi saya yang terbiasa dengan kehebohan. Bayangkan the class atmosphere was really cold, belum lagi tambah dinginnya AC di kelas. Maka lengkaplah sudah suasana yang mencekam itu. Saya yang orangnya banyak bicara mendadak menjadi pendiam. At the time, I thought that mungkin inilah rasanya berkumpul bersama orang-orang intelek pilihan. Saya mencoba untuk mengambil sisi positif dari peristiwa yang langkah dalam hidup saya ini. Sejak di bangku SMP sampai perkuliahan saya terus bertemu dengan orang-orang yang otaknya sedikit geser alias heboh bin ababil. Secerdas-cerdasnya teman kelas yang saya temui selama ini pasti tingkahnya selalu hancur. Finally, the time has come. Tuhan mempertemukan saya dengan orang-orang yang berada di jalan yang benar kali ini yang itu artinya saya bisa menjadi orang yang intelek juga. Belum selesai saya memanjatkan rasa puji syukur saya atas karunia Tuhan yang begitu dahsyat, tiba-tiba saja negara api menyerang. Entah ada angin apa yang membuat suasana akademis berubah menjadi taman bermain. Saya gagal jadi intelek betulan hahaha. But anyway, I am proud to have you guys (I am totally serioussss!).  

Banyak hal selain IELTS yang saya temukan dan pelajari selama berjuang di program beasiswa ini. Selain berasal dari almamater yang berbeda-beda, kami juga berasal dari latar belakang kehidupan keluarga yang berbeda-beda. Tapi tetap saja kita punya mimpi yang sama. Mimpi yang sering didengung-dengungkan dari atas lantai tiga di salah satu perumahan di Mangasa Permai. Rooftop, sebutan basecamp yang sering saya tempati untuk numpang makan dan sejenisnya telah menjadi saksi betapa banyaknya hari dan malam yang saya lalui bersama gerombolang scholarship hunters nan sakik ini. Rooftop ini sudah menjadi semacam tempat mengistirahatkan raga yang sudah lelah scoring dengan nilai pas-pasan. Pukul 05.30 PM sudah menjadi alarm alami untuk bergegas nongkrong di loteng andalan. Lantai tiga kos-kosan sudah bagaikan tempat yang didesain khusus para anak ICMI batch II untuk membuang lelah lewat tidur dan mengisi perut lewat makan. Sebut saja kami pasukan nasi 5000 yang hobby kelaparan setiap selesai scoring. Ketika kantongan kresekberisi makanan sudah tergelatak di tengah-tengah rooftop maka sudah saatnya pada posisi lesehan masing-masing. Karet merah untuk nasi putih, karet kuning untuk nasi kuning dan kemudian acara lunch plus dinner pun digelar. Kalau lagi tidak kere, kantongan makanan yang biasanya hitam pekat berubah dengan kantongan putih dengan logo ayam andalannya. Saya mau sebut merek tapi bukan sponsor beasiswa kita. Senja yang merona kadang tanpa sungkan muncul begitu saja dari balik pohon palem besar pas sebelah kiri rooftop. Bisa dibilang mereka semacam landmark dari ICMI Batch II. Saya sampai sudah tidak bisa menghitung berapa banyak sunset yang saya tangkap setiap si sunset nongol. 

Then, Finally I realized, Kamis 15 Maret 2018 adalah hari yang menggenapkan tiga bulan pertemuan kami. Tidak terasa. Lagi-lagi sebuah pertemuan menemukan perpisahannya. Tak ada lagi pasukan bakso keju di jam-jam istirahat belajar. Tak ada lagi penghuni rooftop yang bikin gaduh seantero kos-kosan di Mangasa Permai gara-gara bahas beasiswa, cita-cita ke luar negeri sampai bahas kegalauan berjamaah tentang score yang itu-itu saja. And stttttssss bahas anaknya orang yang selalu bikin panas telingaku hahaha. 

Saya percaya Tuhan mempertemukan kita bukan dengan tanpa tujuan. Saya juga percaya rasa lelah dan penat selama ditempa oleh yang namanya IELTS akan terbayar lunas, tuntas di kemudian hari. Ala-ala closing speech saya cuma mau bilang, terima kasih sudah menjadi teman tiga bulan yang menyenangkan, mengharukan, menjengkelkan tapi tetap membanggakan. Nice to meet you! See you on the different (Roof)TOPs guys.     

Friday, 29 December 2017

Ruang Guru For Education


Semakin berkembang pesatnya teknologi, membuat para pegiat pendidikan juga terus melakukan inovasi-inovasi demi memajukan pendidikan di indonesia. Salah satu platform aplikasi pendidikan yang telah dipakai oleh jutaan anak Indonesia saat ini adalah Ruangguru. Selain bertujuan untuk membantu para siswa dalam belajar, Ruangguru juga telah berperan besar dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan tambahan penghasilan bagi guru di Indonesia. Berbeda dengan dua aplikasi berbasis pendidikan yang lebih dikenal sebelumnya yaitu Quipper dan Zenius, Ruangguru memiliki fitur-fitur yang lebih unggul, baik itu dari segi content maupun tampilan.

Dari segi content Ruangguru menyediakan beragam fitur yang memudahkan para siswa dalam belajar. Di dalam aplikasinya, terdapat enam menu yang bisa kalian pilih yaitu ruangbelajar, digitalbootcamp, ruangles, ruanglesonline, ruanguji dan ruangkelas. Berbeda dengan Quipper dan Zenius yang fokus pada video belajar, di Ruangguru para siswa bisa memilih banyak pilihan fitur pembelajaran. Materinya juga disusun sesuai kurikulum yang berlaku saat ini, baik itu KTSP, K13 maupun revisi K13.

Sekarang kita bahas satu per satu fiturnya ya. Pertama, ada ruangbelajar yaitu video animasi yang membahas pelajaran dari SD-SMA. Di dalamnya terdapat latihan soal, rangkuman pelajaran dengan desain yang menarik. Selain itu, terdapat digitalbootcamp yaitu group chat bimbel online untuk kelas 6 SD sampai 12 SMA yang berisikan maksimal dua puluh orang siswa. Di sini terdapat mentor yang standby memandu siswa, juga memberikan materi belajar lengkap seperti modul, soal, tryout, webinar yang sesuai dengan kurikulum. Fitur selanjutnya, ruangles berupa fitur untuk mencari guru privat sesuai dengan kebutuhan siswa. Sedangkan, fitur ruanglesonline merupakan cara cepat bagi siswa yang ingin berkonsultasi mengenai soal pelajaran.

Kemudian, ada juga yang disebut dengan ruanguji yaitu fitur yang melatih siswa dengan menjawab soal-soal tryout. Terakhir, fitur ruangkelas berupa layanan learning management system yang dapat digunakan secara gratis untuk guru dan siswa. Guru dapat mengakses ruangkelas yang tidak hanya bisa digunakan sebagai tools untuk memberikan tugas pada siswa secara online. Akan tetapi, juga bisa membantu guru memantau dan mengevaluasi tugas mereka.  

Dilihat dari segi tampilan, Ruangguru menyajikan tampilan yang lebih menarik dan lebih mudah digunakan. Video pembelajaran yang tersedia di Ruangguru menampilkan animasi yang lebih menarik serta para guru yang lebih interaktif dibandingkan dengan Quipper dan Zenius. Adapun fitur ataupun menu di dalam aplikasi Ruangguru terlihat lebih tertata dan terstruktur dari segi pilihan menunya hingga pada penjelasan tiap fiturnya sehingga memudahkan para siswa untuk menggunakannya. Warna yang digunakan pada aplikasi Ruangguru juga lebih terlihat menarik dibandingkan dengan Zenius yang terlihat monoton dengan dua warna yang mendominasi yaitu hitam dan kuning.   

Beberapa keunggulan yang dimiliki oleh Ruangguru di atas merupakan bukti komitmennya untuk terus melakukan inovasi-inovasi pendidikan Indonesia dengan memanfaatkan teknologi saat ini.