Wednesday, 16 May 2018

Welcoming Ramadhan 1439 H




H-1 menuju Ramadhan seharusnya saya isi dengan tulisan suka cita menyambut Ramadhan. Jauh-jauh hari sebelumnya tangan saya sudah gatal menuliskan banyak hal mengenai euphoria menjemput bulan puasa. Kepala saya juga sudah sangat ingin menumpahkan berbagai macam list menu buka puasa sampai ke schedule yang harus saya lakukan selama puasa biar bisa lebih produktif jadi orang. Namun wacana hanyalah sekedar wacana. Ujung-ujungnya tulisan saya itu hanya berupa rencana. Ternyata tangan dan kepala saya lebih greget menuliskan fenomena belakangan ini. Mulai dari kasus bom sampai hawa panas politik yang terus melilit di sekitar saya. Trending topics nowadays!


Bulan puasa yang harusnya menjadi momentum untuk saling memperbaiki diri dan mempererat silaturahmi antar sesama mendadak berubah haluan menjadi peristiwa untuk saling menuduh dan memfitnah. Di mana-mana selalu saja berita tentang terorisme yang kemudian dikaitkan dengan umat islam. Sampai-sampai muslim yang berpeci, pakai baju kokoh, celana cingkrang dan berjanggut menjadi sasaran masyarakat dan aparat untuk dicurigai. Para muslimah pun tak luput dari incaran kecurigaan ini. Beberapa kasus muslimah yang dipaksa buka cadar dan jilbab sudah beredar di sosial media.  Lagi-lagi gara-gara sih teroris umat Islam jadi sasaran. Mau lu apa sih ris? Jihad ko nanggung amat. Suriah sama jalur Gaza lebih butuh geng kalian tuh!

Mencurigai demi keamanan bersama tentu boleh, asal jangan semena-mena memperlakukan umat Islam dengan tindakan yang tidak sepantasnya. Terlepas dari berita-berita yang kebanyakan dipelintir sana sini guna memecah belah bangsa, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para aparat kepolisian terhadap perannya membasmi teroris di tanah air. I do appreciate your works so far Sir.  It is not an easy job to be faced although some people out there assume if this is acara settingan only. Well, terserah beberapa pihak yang menganggap ini semua hanyalah sebagai pengalihan isu. I know there is an actor or perhaps many actors behind of this dark, grey, or pink agenda but in the deepest of my heart acara mempertaruhkan nyawa demi menjalankan tugas bukanlah hal yang harus dianggap rekayasa belaka.

Belum usai acara perang tagar kemarin muncul lagi perang asumsi dari banyak kalangan tentang kasus bom ini. Tak jarang saya melihat banyak yang mengaitkan kasus bom ini dengan politik belakangan ini. Hmmm,,, I am not trying to judge you as a clan of  sumbu pendek, cebong or whatever but menghubung-hubungkan peristiwa bom dan kemudian menyalahkan sepenuhnya kasus ini kepada pemerintah dan pihak kepolisian yang sekarang adalah hal yang sangat tidak beretika menurut saya. Ketika beberapa pihak pemerintah bersusah payah mencari fakta, penyebab hingga pelaku terorisme di tanah air, beberapa pihak malah menyudutkan pemerintah yang dianggap tidak becuslah, ngarang, settingan dan lain sebagainya. Adu mulut di dunia maya sampai dunia nyata pun tak terbendung. Yang awalnya hanya heboh ngeshare info bom bunuh diri dan perlawanan umat Islam terhadap teroris berujung pada politik jaman now. Nyinyir sana sini plus ditambah bumbu hoax biar lebih gurih. Meme mulai berterbaran. Again!

Sebagai muslim saya miris dengan banyaknya pemberitaan hoax di mana-mana. Terlebih dengan ujaran kebencian yang sliweran di berbagai sosmed yang pelakunya sendiri itu yah umat Islam. Beda pendapat sedikit saja dianggap membela kafir. Beda pandangan  dianggap mendukung tokoh politik tertentu. What? To be honest, para calon bupati di kota saya saja, saya tidak tahu sama sekali. Nama mereka saja saya nggak ingat lebih-lebih asal partai politik mereka. Indeed! Saya lebih pilih diskusi drama korea daripada bahas politik jaman jigeum.

Semenjak pemilihan gubernur Jakarta kemarin memang hawa politik di Indonesia makin naik. Pemilihan gubernur rasa pemilihan president. Jakarta yang pemilu, se Indonesia yang kampanye. Timeline saya sampai penuh ujaran kebencian atas pasangan-pasangan tertentu. Seiring berjalannya waktu saya kira semuanya akan berakhir usai pemilihan gubernur di Jakarta ternyata lanjut di season selanjutnya. Kayak sinetron aja. Then boom! Peran tagar pun dimulai. Sosmed saya kebanyakan berisi postingan yang nyinyir sana-sini. Beruntung saya follow beberapa akun artis korea, fanpage anime sama group yang yang isinya hanya kebanyakan nyinyir masalah jomblo. Mereka membuat timeline saya lebih adem.

Dari beberapa fenomena yang terjadi, ternyata saya belajar banyak tentang kebencian yang HQQ bagi para penganutnya. Resentment is the point in my post this time. I am not just talking about the hate in this politic atmosphere tetapi juga kepada human relationship. Aura kebencian di panggung politik hari ini tak jauh berbeda dengan aura kebencian di panggung kehidupan sehari-hari kita. Kalau di dunia politik, saat tokoh yang tak disukainya membuat sebuah kesalahan kecil saja maka itu bisa dijadikan senjata untuk disebar di dunia maya dan dunia nyata. Maka benarlah motto andalan beberapa haters ini “Bad news is a good news”. Bagaimana dengan kasus kebencian yang HQQ di sekitar kita? Yeah, “Bad news is still a good news”.  Walaupun untuk kaum yang satu ini kebanyakan lebih memilih untuk menebar “kebencian” di dunia nyata lewat mulut ke mulut sambil cari kesalahan dan aib dibandingkan lewat sosmed.

Well, ini sudah 2018. Berhubung Ramadhan apa nggak minat introspeksi diri? Hidupmu terlalu singkat kalau hanya untuk menebar kebencian. Hidupmu terlalu sia-sia jika hanya untuk mencari kesalahan orang lain.  Duniamu terlalu hambar jika pikiranmu tak mau bersahabat dengan kebenaran yang kemudian kau abaikan karena tak sejalan dengan keinginanmu. Rugi sekali kau menjadi pengabdi kebencian kawan!  

Accept the life so you do not need to live in a lie. Love yourself kata Justin Bieber.


Friday, 16 March 2018

Rooftop, Senja, dan Teman Tiga Bulanku...



Alkisah pada suatu hari di bulan November, setelah menyelesaikan tugas maha sakral di salah perguruan tinggi negeri di Makassar, tiba-tiba saja saya mendapatkan kabar gembira yang mencurigakan. Kabar gembira? Yup saat kuota saya lagi sekarat-sekaratnya tiba-tiba muncul notifikasi-notifikasi Direct Message dari beberapa sosmed saya yang menyebutkan kalau saya adalah salah satu dari dua puluh orang yang lolos masuk dalam program persiapan lanjut studi luar negeri yang diselenggarakan oleh ICMI selama tiga bulan. Mencurigakan? Yup, saya tidak habis pikir saja kok bisa-bisanya saya lulus di antara beratus-ratus orang yang menjadi saingan saya waktu itu. Suddenly, I wondered if I got a prank from my friends in sosmed. Demi menghindari fitnah antar rekan sendiri merengeklah saya kepada salah seorang teman waktu itu untuk menyedekahkan sebagian kuotanya alias tetring ke HP saya. Alhamdulillah dikabulkan, lalu sayapun meluncur ke Instagram saya untuk mengklarifikasi kabar tersebut kepada teman yang mengirimkan info dari ICMI Cerdas. Setelah teman saya membenarkan info itu, saya pun masuk ke akun WA saya. Sangat jelas terlihat betapa membludaknya isi pesan dari berbagai grup di WA saya setelah hiatus beberapa hari. Willy nilly saya harus olahraga skrolling pesan, lumayanlah buat latihan otot jari-jari saya. Then BOOM!  I found a lot of  ucapan selamat dari teman-teman saya, at the end saya pun mulai percaya kalau saya benar-benar lulus. Terpaksa barang-barang yang sudah saya angkut pulang kampung akhirnya saya bawa lagi ke Makassar. For your information readers, ICMI adalah sebuah lembaga organisasi cendikiawan muslim di Indonesia yang dibentuk pada tahun 1990 di mana bapak B.J Habibie kala itu terpilih sebagai ketua ICMI yang pertama. Nama ICMI ini sendiri merupakan singkatan dari Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia. Sedangkan ICMI Cerdas (Collaborative, Empowering, Religious, Developing, Accesible, Sustainable) adalah program beasiswa yang diberikan dan dikelola oleh ICMI wilayah Sulsel. Well, so at the time I was officially awardee ICMI Cerdas 2017-2018. Ehmmm anyway, sampai hari ini saya masih malu kalau ada orang yang menyebut saya sebagai anak ICMI. Bagaimana tidak, bebannya keberatan dude. Sudah cendikiawan, muslim terus ditambah dengan embel-embel CERDAS dibelakangnya membuat saya agak canggung menjadi bagian dari beasiswa ini. Saya merasa terlalu keren, Indeed! Tapi, terlepas dari semua beban itu I am so grateful to be the one of the selected students in this programme. Berkumpul bersama mahluk-mahluk pilihan yang pastinya cendikiawan di mata para interviewers kala itu menjadi semacam motivasi sekaligus doa untuk benar-benar menjadi seorang muslim yang berguna bagi nusa dan bangsa. Amiiin...

Singkat cerita, program pelatihan IELTS selama tiga bulan ini pun berakhir. Tidak terasa. Sebenarnya terasa sih, mulai dari capeknya belajar di kelas dari jam satu siang sampe setengah enam, capeknya kejar setoran tugas writing sama vocabulary tiap hari, belum lagi pusing liat teks reading IELTS yang tidak ada menarik-menariknya di mata saya, dengar podcast yang speakernya kayak orang kumur-kumur, kerja writing yang cara kerjanya tidak segampang tulis diari, terus ada speaking yang pertanyaan truly unpredictable. Saking keponya bisa tanya soal hubungan cewek sama cowok. Kan kasihan yang jomblo. Intinya I was not falling in love at the first sight sama IELTS. However, seiring berjalannya waktu saya sudah mulai terbiasa dengan yang namanya IELTS. Saya menerima segala kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya. Lohhhhh, what I want to say is about the challanges in learning IELTS. But honestly, belajar IELTS itu bikin gemess sampai bikin otak berdarah-darah. Seriously??? Kalau tidak percaya coba saja belajar dan rasakan sensasinya but I do believe it’s so fun dude

Anyway, selama tiga bulan itu saya tidak saja akrab dengan IELTS. As aformentioned, pada program ini ICMI telah memilih dua puluh putra-putri terbaik sulsel (Uhukkk) untuk mengikuti pembinaan bahasa. Then you know what, saya dipertemukan oleh berbagai macam spesies di kelas ini. Berdasarkan jurusan serta nama  yang tertera pada website, saya melihat rekan-rekan seperjuangan saya untuk go abroad di program ini adalah anak-anak yang luar biasa. Di minggu pertama terlihat jelas akward moment di antara kami. Wajarlah, baru kenalan jadi jaim-jaim dulu. Tapi sejujurnya, saya yang berasal dari jurusan bahasa Inggris totally minder dengan mereka. Bayangkan saja saya sekelas dengan anak jurusan Matematika, Fisika, PAUD, Pertanian, Bisnis, Statistik, Tafsir Hadis, Sosial Politik, Biologi, Olahraga sampai jurusan Perikanan dan Kesehatan. Could you imagine, when you are from English department then meet with the other students from different departments but have a good skill in English. Yeah, they are super extraordinary students. Let me tell you a piece of story of my freaking classmates.

Pertemuan-pertemuan awal benar-benar sangat membosankan bagi saya yang terbiasa dengan kehebohan. Bayangkan the class atmosphere was really cold, belum lagi tambah dinginnya AC di kelas. Maka lengkaplah sudah suasana yang mencekam itu. Saya yang orangnya banyak bicara mendadak menjadi pendiam. At the time, I thought that mungkin inilah rasanya berkumpul bersama orang-orang intelek pilihan. Saya mencoba untuk mengambil sisi positif dari peristiwa yang langkah dalam hidup saya ini. Sejak di bangku SMP sampai perkuliahan saya terus bertemu dengan orang-orang yang otaknya sedikit geser alias heboh bin ababil. Secerdas-cerdasnya teman kelas yang saya temui selama ini pasti tingkahnya selalu hancur. Finally, the time has come. Tuhan mempertemukan saya dengan orang-orang yang berada di jalan yang benar kali ini yang itu artinya saya bisa menjadi orang yang intelek juga. Belum selesai saya memanjatkan rasa puji syukur saya atas karunia Tuhan yang begitu dahsyat, tiba-tiba saja negara api menyerang. Entah ada angin apa yang membuat suasana akademis berubah menjadi taman bermain. Saya gagal jadi intelek betulan hahaha. But anyway, I am proud to have you guys (I am totally serioussss!).  

Banyak hal selain IELTS yang saya temukan dan pelajari selama berjuang di program beasiswa ini. Selain berasal dari almamater yang berbeda-beda, kami juga berasal dari latar belakang kehidupan keluarga yang berbeda-beda. Tapi tetap saja kita punya mimpi yang sama. Mimpi yang sering didengung-dengungkan dari atas lantai tiga di salah satu perumahan di Mangasa Permai. Rooftop, sebutan basecamp yang sering saya tempati untuk numpang makan dan sejenisnya telah menjadi saksi betapa banyaknya hari dan malam yang saya lalui bersama gerombolang scholarship hunters nan sakik ini. Rooftop ini sudah menjadi semacam tempat mengistirahatkan raga yang sudah lelah scoring dengan nilai pas-pasan. Pukul 05.30 PM sudah menjadi alarm alami untuk bergegas nongkrong di loteng andalan. Lantai tiga kos-kosan sudah bagaikan tempat yang didesain khusus para anak ICMI batch II untuk membuang lelah lewat tidur dan mengisi perut lewat makan. Sebut saja kami pasukan nasi 5000 yang hobby kelaparan setiap selesai scoring. Ketika kantongan kresekberisi makanan sudah tergelatak di tengah-tengah rooftop maka sudah saatnya pada posisi lesehan masing-masing. Karet merah untuk nasi putih, karet kuning untuk nasi kuning dan kemudian acara lunch plus dinner pun digelar. Kalau lagi tidak kere, kantongan makanan yang biasanya hitam pekat berubah dengan kantongan putih dengan logo ayam andalannya. Saya mau sebut merek tapi bukan sponsor beasiswa kita. Senja yang merona kadang tanpa sungkan muncul begitu saja dari balik pohon palem besar pas sebelah kiri rooftop. Bisa dibilang mereka semacam landmark dari ICMI Batch II. Saya sampai sudah tidak bisa menghitung berapa banyak sunset yang saya tangkap setiap si sunset nongol. 

Then, Finally I realized, Kamis 15 Maret 2018 adalah hari yang menggenapkan tiga bulan pertemuan kami. Tidak terasa. Lagi-lagi sebuah pertemuan menemukan perpisahannya. Tak ada lagi pasukan bakso keju di jam-jam istirahat belajar. Tak ada lagi penghuni rooftop yang bikin gaduh seantero kos-kosan di Mangasa Permai gara-gara bahas beasiswa, cita-cita ke luar negeri sampai bahas kegalauan berjamaah tentang score yang itu-itu saja. And stttttssss bahas anaknya orang yang selalu bikin panas telingaku hahaha. 

Saya percaya Tuhan mempertemukan kita bukan dengan tanpa tujuan. Saya juga percaya rasa lelah dan penat selama ditempa oleh yang namanya IELTS akan terbayar lunas, tuntas di kemudian hari. Ala-ala closing speech saya cuma mau bilang, terima kasih sudah menjadi teman tiga bulan yang menyenangkan, mengharukan, menjengkelkan tapi tetap membanggakan. Nice to meet you! See you on the different (Roof)TOPs guys.     

Friday, 29 December 2017

Ruang Guru For Education


Semakin berkembang pesatnya teknologi, membuat para pegiat pendidikan juga terus melakukan inovasi-inovasi demi memajukan pendidikan di indonesia. Salah satu platform aplikasi pendidikan yang telah dipakai oleh jutaan anak Indonesia saat ini adalah Ruangguru. Selain bertujuan untuk membantu para siswa dalam belajar, Ruangguru juga telah berperan besar dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan tambahan penghasilan bagi guru di Indonesia. Berbeda dengan dua aplikasi berbasis pendidikan yang lebih dikenal sebelumnya yaitu Quipper dan Zenius, Ruangguru memiliki fitur-fitur yang lebih unggul, baik itu dari segi content maupun tampilan.

Dari segi content Ruangguru menyediakan beragam fitur yang memudahkan para siswa dalam belajar. Di dalam aplikasinya, terdapat enam menu yang bisa kalian pilih yaitu ruangbelajar, digitalbootcamp, ruangles, ruanglesonline, ruanguji dan ruangkelas. Berbeda dengan Quipper dan Zenius yang fokus pada video belajar, di Ruangguru para siswa bisa memilih banyak pilihan fitur pembelajaran. Materinya juga disusun sesuai kurikulum yang berlaku saat ini, baik itu KTSP, K13 maupun revisi K13.

Sekarang kita bahas satu per satu fiturnya ya. Pertama, ada ruangbelajar yaitu video animasi yang membahas pelajaran dari SD-SMA. Di dalamnya terdapat latihan soal, rangkuman pelajaran dengan desain yang menarik. Selain itu, terdapat digitalbootcamp yaitu group chat bimbel online untuk kelas 6 SD sampai 12 SMA yang berisikan maksimal dua puluh orang siswa. Di sini terdapat mentor yang standby memandu siswa, juga memberikan materi belajar lengkap seperti modul, soal, tryout, webinar yang sesuai dengan kurikulum. Fitur selanjutnya, ruangles berupa fitur untuk mencari guru privat sesuai dengan kebutuhan siswa. Sedangkan, fitur ruanglesonline merupakan cara cepat bagi siswa yang ingin berkonsultasi mengenai soal pelajaran.

Kemudian, ada juga yang disebut dengan ruanguji yaitu fitur yang melatih siswa dengan menjawab soal-soal tryout. Terakhir, fitur ruangkelas berupa layanan learning management system yang dapat digunakan secara gratis untuk guru dan siswa. Guru dapat mengakses ruangkelas yang tidak hanya bisa digunakan sebagai tools untuk memberikan tugas pada siswa secara online. Akan tetapi, juga bisa membantu guru memantau dan mengevaluasi tugas mereka.  

Dilihat dari segi tampilan, Ruangguru menyajikan tampilan yang lebih menarik dan lebih mudah digunakan. Video pembelajaran yang tersedia di Ruangguru menampilkan animasi yang lebih menarik serta para guru yang lebih interaktif dibandingkan dengan Quipper dan Zenius. Adapun fitur ataupun menu di dalam aplikasi Ruangguru terlihat lebih tertata dan terstruktur dari segi pilihan menunya hingga pada penjelasan tiap fiturnya sehingga memudahkan para siswa untuk menggunakannya. Warna yang digunakan pada aplikasi Ruangguru juga lebih terlihat menarik dibandingkan dengan Zenius yang terlihat monoton dengan dua warna yang mendominasi yaitu hitam dan kuning.   

Beberapa keunggulan yang dimiliki oleh Ruangguru di atas merupakan bukti komitmennya untuk terus melakukan inovasi-inovasi pendidikan Indonesia dengan memanfaatkan teknologi saat ini.              

Tuesday, 21 November 2017

WELCOME 25 YEARS OLD!


The twenty first of November of 2017. 09.30 (PM)

Hello and welcome to my really fresh content here. Yeah, saya hiatus sekitar beberapa bulan dari blog ini dikarenakan karena beberapa kesibukan saya di kampus yang tak lain dan tak bukan karena urusan thesis yang tak berujung tapi Alhamdulillah akhirnya punya ujung juga. Tepat tanggal 21 November 2017, tadi pagi menjelang siang saya berhasil mengakhiri keresahan saya yang tak berujung selama berbulan-bulan itu. Yeah, I did it, I caught my second title. I was officially Rostina, S.Pd, M.Pd  tepat di usia saya yang ke dua puluh lima tahun (Nda' usah tanya IPK).

Well, beberapa bulan vakum di blog membuat saya trauma dengan kejadian blog lama saya. Saya tidak mau kejadian yang sama terulang kembali. I have promised to my self to keep blogging. Kalau kalian membaca tulisan pertama saya mungkin kalian tahu maksud dari kata trauma di sini. Kalau belum baca ya sudah silahkan cek postingan perdana saya di sini Regard me.  

Usia dua puluh lima tahun adalah usia di mana saya harusnya sudah mendapatkan apa yang saya cita-citakan. Pekerjaan, travelling keliling dunia, menyelesaikan kuliah di luar negeri, dan juga menikah (Saya gak yakin masukin yang ini kkwkwk). Sayangnya tak satupun yang kesampaian. Pekerjaan? yah dulu saya sempat berfikir untuk kuliah sambil kerja tapi ujung-ujungnya gagal juga. Ada tawaran tapi disia-siakan, sometime I want to regret it but sometime I also want to be grateful to reject it. Saya kebanyakan dilema sama plin-plan memang waktu itu but yeah show must go on. Apapun yang sudah saya putuskan tak harus saya sesali. Saya hanya perlu belajar untuk lebih bijak lagi dalam mengambil tindakan ke depannya. Saya memang ditakdirkan untuk menjadi jobless dulu di usia yang kedua puluh lima. Travelling keliling dunia juga selalu menjadi perbincangan hangat di otak saya. Entah kenapa saya selalu tertarik dengan yang namanya jalan-jalan. Bukan tentang tempatnya tapi tentang orang-orang baru dan pengalaman baru yang selalu membuat saya bersemangat untuk keliling dunia. Sayangnya, itu masih menjadi rencana dan wacana hingga hari ini. Kuliah di luar negeri untuk mendapatkan gelar master memang sudah saya persiapkan dengan matang jauh-jauh hari sebelum saya diterima di kampus yang baru saja memberikan saya gelar M.Pd sayangnya saya tak berhasil melawan takdir. Saya memang ditakdirkan untuk meraih gelar master dalam negeri bukan luar negeri seperti yang saya cita-citakan. Menikah, well, I think this is a crucial part to be discussed for a twenty five year old girl. Usia di mana kebanyakan orang-orang terjerat dalam zona bapper. I admit it, kadang saya terkena bapper tapi pada kenyataannya saya hanya terkena percikan-percikan euforia dari rekan-rekan yang baru saja menikah. I cannot deny if I want to be a wife soon. Menjalankan sunnah nabi yang satu ini adalah cita-cita tersakral bagi setiap kaum hawa di dunia ini. Nah terus kenapa gak nikah-nikah? kalau ada yang bilang jangan jadikan kata tidak siap sebagai alasan, saya sebenarnya mau tanya balik memangnya yakin kalau tiba-tiba ada orang yang tidak kamu kenal sebelumnya datang ke rumah kamu terus melamar, memangnya langsung say yes aja begitu? honestly I will say no. Kalau sudah kenal terus kenapa gak siap? Memangnya kalau kenal yakin langsung say yes? Tak tahu gunanya ta'aruf kah? You have to know closer and deeper each other not only as 'saya kenal dia'. Tidak ada yang serba instan di dunia ini apalagi urusan nikah yang jelas-jelas sebuah level tertinggi dalam menjalin sebuah hubungan. Kalau ditanya alasannya kenapa menolak ya karena memang saya belum siap. Siap di sini bukan alasan klise yang dijadikan senjata penolakan. Saya belum pantas juga bukan alasan andalan untuk menolak sebuah pernikahan. Kata tidak siap dan konco-konconya itu sebenarnya hanyalah sampul dari beberapa alasan yang tidak mungkin diutarakan secara langsung (Ini hasil pengamatan saya sih). Terus kapan siap dan pantasnya? makanya ta'aruf. Kalau cocok berarti sudah siap dan pantas then road to pelaminanHowever, tidak selamanya melakukan ta'aruf akan berakhir pada pernikahan. Kenapa? karena adanya hal lain yang membuat pasangan tersebut tidak siap.  Ya tinggal lihat sitkon sajalah nanti, semoga kita diberikan kelancaran oleh Allah SWT dalam menunaikan sunah Rasul. Intinya kalian belum menikah bukan karena sial, bergelar S2, S3, Prof, tua, jelek, miskin, penyakitan ataupun faktor lainnya. Kalian belum menikah yah karena kalian belum ketemu jodoh saja, just it. 

Anyway, pembahasan di atas memang terlalu berat but willy nilly all of us will face it. Berbicara tentang  usia dua puluh lima tahun juga membuat saya terus menerka-nerka masa depan. Akan jadi apa saya di tahun sekian, di mana saya menghabiskan hidup saya dan yang paling membuat saya penasaran adalah apakah diri saya di masa depan adalah diri yang saya selalu dambakan sejak dulu. Akankah saya bahagia? 

Tepat di usia yang seperempat abad ini, akhirnya saya mengakhiri sesuatu yang saya sudah niatkan sejak memulainya jauh-jauh hari untuk cepat berakhir. Pada tahu 2014 saya menyandang gelar S.Pd saya dan ketika Tuhan memberikan saya rezki untuk kuliah lagi pada tahun 2015, saya pun sudah berniat untuk mengakhirinya di tahun 2017. Alhamdulillah I did it. Pertanyaannya, setelah ini apa lagi? tujuh tahun di tanah rantau bukanlah waktu yang singkat. Memulai hal baru di tempat lain membuat saya belajar tentang yang namanya beradaptasi dan bertahan. Sebenarnya saya punya mimpi untuk melanjutkan jalan hidup saya di tanah perantauan namun saya menyadari bahwasannya saya harus kembali ke tanah kelahiran saya. Keluarga, orang tua dan kampung halaman saya membutuhkan saya. Saya bukannya kepedean yah tapi seharusnya itulah yang memang saya lakukan. Sebut saja rasa terima kasih saya yang telah diberikan kesempatan mencicipi bangku kuliah hingga ke jenjang master. Banyak anak-anak yang sangat ingin bersekolah setinggi mungkin tapi tak memiliki kesempatan seperti saya. Special thanks lah buat Ibu yang sekarang merangkap sebagai ayah sekaligus. Terima kasih telah berjuang hingga sejauh ini. I know you are not okay to leave me again for two years. Stay healthy as always Mom.

Pekerjaan, travelling around the world, kuliah di luar negeri, hingga menikah adalah deretan mimpi-mimpi saya yang tak kesampaian. Saya percaya selama kita meyakini mimpi-mimpi kita itu maka secara perlahan tapi pasti mereka akan menjemput kita dengan sendirinya. Saya tidak pernah tahu di mana rezeki saya tapi rezeki tahu di mana keberdaan saya. Niat yang baik akan menyegerakan kebaikan, saya mempercayai itu. It is happened to me right now! Sejak dulu saya hanya selalu berandai memiliki  sebuah passport dan kemudian saya meniatkan untuk memakainya keliling dunia.  Setelah beberapa lama passport saya ini benar-benar nganggur di lemari saya. Saya berjodoh oleh kegagalan keliling dunia berkali-kali tapi saya selalu percaya akan ada hari di mana Tuhan menunjukkan kekuatan keyakinan diri kita. Niat yang baik akan menyegerakan kebaikan itu benar-benar terwujud. It was like I got unpredictable surprise from God. Last month my cousin suddenly told me to prepare my self to visit Baitullah in December. Yah, semacam kejutan dadakan yang tiba-tiba but so meaningful. 

November tak lama lagi akan berakhir, ekor 2017 juga sudah tampak jelas. Saya masih mempercayai tentang kekuatan niat itu. I will lie at the plot of my life. Let my self works then Allah decides where my life should flow. Berjuang meraih mimpi bukan saja tentang berusaha dan berdoa tapi juga bersabar. 

Monday, 31 July 2017

Suicide! Is it a new trend today?



The Thirtieth of July of 2017. 10.38 (PM). 


Selamat malam para readers sekalian dan selamat bertemu kembali dengan tulisan terbaru saya malam ini.  Well, sisa 24 jam lebih lagi kita sudah akan berpindah ke tempat baru di tahun 2017 ini. Saya sendiri juga baru sadar kalau ternyata saya sudah menghabiskan hidup saya selama hampir tujuh bulan di tahun 2017 ini padahal rasanya baru kemarin saya memulai ngeblog lagi. I feel it too fast for welcoming August this year! Kalau mereview kejadian-kejadian apa saja yang booming beberapa bulan terakhir ini tulisan saya masih butuh tambahan chapter gara-gara terlalu banyak hal-hal yang aneh, unik, horor, misterius, hingga hal yang menegangkan menghiasi tahun 2017 ini. Timeline sosmed saya juga tiba-tiba penuh dengan beraneka ragam berita yang membuat saya speechless. Di penghujung bulan Juli ini saja saya sudah shock dengan berbagai macam kasus bunuh diri. Saya sendiri kadang deg-degan buka timeline sosmed saya. Hampir tiap hari ada saja kasus bunuh diri terbaru dengan berbagai macam sebab. Anyway is it a trend today?

Beberapa hari ini sejak berbagai kasus bunuh diri jadi heboh di dunia maya, saya sempat berpikir kalau bunuh diri itu memang sedang naik daun sekarang. Yah sebut saja trend bulan Juli 2017.  Dipikiran saya kadang juga terlintas tentang kasus-kasus narkoba yang sempat heboh yang menurut para pemujanya "Gak make narkoba berarti gak gaul". Gara-gara motto yang mereka eluh-eluhkan ini saya tiba-tiba jadi takut sendiri, jangan sampai motto tandingan juga muncul, "Gak bunuh diri berarti bukan anak gaul". It is so tragic dude! 

Dari beberapa kasus bunuh diri yang sempat gempar, kasus bunuh diri karena persoalan asmara adalah kasus yang paling menyentil menurut saya. Dari berita yang saya baca menerangkan seorang anak laki-laki yang masih duduk di bangku SMA memutuskan bunuh diri lantaran cemburu pada pacarnya yang ia curigai selingkuh. Wow! Parah sekali kisah asmara anak muda hari ini! Sesulit inikah memadu jalinan asmara pada balutan putih abu-abu hari ini? Dan otak saya tiba-tiba mengajak saya berkelana pada masa itu. Saat itu, saya sering melihat perilaku anarkis antara dua sejoli  gara-gara persoalan perasaan sakral ini. Sejak dulu si "cinta" ini memang sering berbuat ulah dikalangan kaula muda. Tapi kadang si "cinta" ini juga berperilaku jinak meskipun ujung-ujungnya berakhir dengan kata putus. Mereka bangga menyebutnya "Kami putus secara baik-baik" (?). Well, we back to the suicide case again. Faktor ekonomi,  masalah keluarga, ataupun bully adalah beberapa penyebab kasus bunuh diri ini terjadi.  Beberapa bulan yang lalu saya masih ingat dengan sangat jelas seorang pria yang ditinggal pergi oleh istrinya bunuh diri dengan cara yang cukup kekinian menurut saya. Bapak ini memadukan teknologi dalam proses mengakhiri hidupnya however, it was not cool anymore sir.  Pria yang terlihat sudah berusia baya tersebut memutuskan untuk gantung diri secara live dengan memakai akun facebooknya.  Tentu saja kasus ini heboh, jutaan pasang mata menyaksikan prosesi pria itu bertemu malaikat maut lewat sosial media.  Saya tidak menganggap kasus pria ini masih lebih baik dari pada anak SMA yang saya ceritakan sebelumnya hanya karena beliau sudah berkeluarga dan memang beban hidupnya lebih berat dari pada sekedar kisah roman picisan anak SMA, karena yang namanya bunuh diri tetap saja merupakan hal buruk. 

Belum lama ini saya juga melihat beberapa orang anak perempuan yang masih berusia belia melakukan aksi percobaan bunuh diri. Ada yang nangis-nangis sambil guling-guling,  minum sampo, sampai menyayat tangannya sendiri hanya karna persoalan asmara. What happened with our juveniles today? Saya setengah miris dan setengah kagum juga sih sama kelakuan mereka. Mirisnya yah karena mereka masih muda. Yeah, they are still young, many dreams are waiting for them in the future. Banyak hal yang seharusnya bisa mereka lakukan dari pada hal konyol seperti bunuh diri. Saya pernah berpikir, kalau bunuh jadi trend di Indonesia itu sebenarnya bagus juga untuk membantu pemerintah mengurangi jumlah penduduk dan angka kemiskinan. I think that I am going too far by thinking those stupid ideas. Sebagai seorang pendidik saya sebenarnya sangat miris melihat kasus-kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri yang bisa saja makin menjamur dikalangan remaja hari ini. Beberapa kasus tersebut sebenarnya bisa jadi tamparan untuk saya dan guru-guru lainnya. Apa benar kita tidak mampu melahirkan generasi penerus bangsa yang membanggakan? Do the teachers fail in teaching their students? 

Fakta juga yang cukup mengejutkan bagi saya adalah para pelaku bunuh diri ini berasal dari keluarga yang mampu dalam masalah ekonomi dan juga sangat mapan dalam bidang pendidikan. Saya semakin sadar jika ekonomi dan pendidikan yang bagus ternyata tak menjamin seorang anak untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang sangat tragis. So, do the parents fail in guiding their children?

Ok, I admit if  environment is the strongest factor in building the students character. I also cannot blame if the teachers and the parents have failed in educating the children today because many teachers and parents outside have been successful in creating a quality character to their children. Something miss in our situation today is about our attention to more care with the children . I believe if Our attitude to our children will reflect how the students will be growing up since sometime, our children do not  need our material they just need our attention in their daily life. Observe them!

Yukk Jadi orang tua dan guru yang lebih peka lagi terhadap anak-anak kita!